Tentu saya tak membandingkan antara Hamidin dan Ahmad Tohari, karena beda masa dan juga beda pola membangun plot dan narasinya. Hanya saja ada kesamaan keinginan atau ruhaniah untuk mengangkat tema “pinggiran” tersebut menjadi ciri dalam karyanya. Dan untuk karya Hamidin, mencoba memotret pinggiran dari sudut pandangnya,dan kemampuannya bernarasi dengan juga kemampuan memainnya plot, yang tetap berbeda dengan kekampiuman seorang Ahmad Tohari.
Sejak memasuki pertengagan tahun 2000-an, ketika Ham pulang kampung ke Banyumas, ia justru sering ketemu sastrawan Ahmad Tohari yang karyanya sering kami diskusikan dulu waktu di Jakarta. Bahkan Ham juga saat ini menjadi salah satu jurnalis di Majalah Ancas yang dimotori oleh sastrawan yang juga ustadz tersebut.
Kembali kepada tema pinggiran dalam karya-karya Hamidin Krazan, baik dalam cerpen maupun puisi, saya masih ingin mengulik arti pinggiran itu sendiri.
Untuk tahun 90-an, kata pinggiran mungkin masih bisa berlaku diucapkan selaras dengan keadaannya. Tetapi pada saat sekarang, dimana desa pun sudah menjadi kota – karena tak ada lagi jarak komunikasi dan informasi dengan kemajuan teknologi – kata atau sebutan Orang Pinggiran hanya menjadi keindahan kata atau bahasa dalam sastra.
Makanya saya cukup tersenyum saat melihat postingan Hamidin Krazan di media sosial yang akan meluncurkan karya bersama kawan sastrawan lainnya mengambil lebel pinggiran sebagai brand.
Lebel tersebut menurut saya menjadi nilai imajinasi kreatif saja, dimana Orang Pinggiran bermakna tak seperti maknanya, melainkan seremoni eksitensi saja, dalam kelompok yang menyukai keindahan kata dibalik makna Orang Pinggiran.